Jumat, 12 November 2010

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI TERHADAP BEBERAPA PENYAKIT

Penyelidikan epidemiologi ialah penyelidikan untuk mendapatkan gambaran klinis dan gambaran kasus, mendapatkan besaran masalah yang sesungguhnya dan mendapatkan factor risiko mengenai masalah kesehatan (penyakit) secara menyeluruh.

Informasi yang dibutuhkan dalam Penyelidikan Epidemiologi (PE) dan aktivitas PE selalu berbeda untuk tiap penyakit. PE meliputi kegiatan – kegiatan investigasi masalah, mengumpulkan informasi, menganalisis masalah tersebut, lalu menyimpulkannya. PE ini melakukan penyelidikan atau survey ke daerah/wilayah dalam situasi endemic maupun epidemic, penyakit infeksi maupun kronis, dan juga kondisi kesehatan lainnya.

Yang penting untuk diketahui dalam penyelidikan epidemiologi adalah sebagai berikut :
  1. Konsep terjadinya penyakit
  2. Natural history of disease
  3. Dinamika/mekanisme penularan
  4. Aspek lingkungan
  5. Aspek administrasi dan manajerial

Di sini, saya akan memberi beberapa penjelasan penyelidikan epidemiologi terhadap beberapa penyakit, yaitu malaria, TB paru, campak, kematian ibu, dan kematian bayi.



MALARIA

Penyakit malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit (plasmodium) yang ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles). Secara epidemiologi penyakit malaria dapat menyerang orang baik laki-laki maupun perempuan, pada semua golongan umur, dari bayi sampai orang dewasa.

Hampir separuh populasi Indonesia, sebanyak lebih dari 90 juta orang, tinggal di daerah endemik malaria. Diperkirakan ada 30 juta kasus malaria setiap tahunnya, kurang lebih hanya 10 persennya saja yang mendapat pengobatan di fasilitas kesehatan. Beban terbesar dari penyakit malaria ini ada di provinsi-provinsi bagian timur Indonesia di mana malaria merupakan penyakit endemik. Kebanyakan daerah-daerah pedesaan di luar Jawa- Bali juga merupakan daerah risiko malaria. Di Jawa Tengah dan Jawa Barat, malaria merupakan penyakit yang muncul kembali (re-emerging diseases). Menurut data dari fasilitas kesehatan pada 2001, diperkirakan prevalensi malaria adalah 850,2 per 100.000 penduduk dengan angka yang tertinggi 20 persen di Gorontalo, 13 persen di NTT dan 10 persen di Papua. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 memperkirakan angka kematian spesifik akibat malaria di Indonesia adalah 11 per 100.000 untuk laki-laki dan 8 per 100.000 untuk perempuan.


Penyelidikan epidemiologi penyakit malaria yaitu :
  1. Mencari dan mendata jumlah penderita malaria
  2. Memeriksa jentik-jentik nyamuk Anopheles di setiap rumah masyarakat yang beresiko malaria
  3. Mengamati dan memeriksa tempat-tempat umum yang sekiranya sebagai tempat penularan malaria


Tindak lanjut hasil PE malaria :
1. Bila ditemukan penderita malaria, jentik nyamuk Anopheles maupun penderita yang merasakan gejala-gejala malaria lebih dari 3 orang, maka yang harus dilakukan :
  • Melakukan penyuluhan 3 M
  • Pembagian abate gratis
  • Memasang kawat kasa pada ventilasi
  • Gotong royong membersihkan lingkungan
  • Pemberian obat anti malaria, seperti kina intra vena (injeksi),
  • Melakukan program kelambu dengan insektisida
  • Penyemprotan
  • Pengawasan deteksi aktif dan pasif
  • Larvaciding
2. Bila tidak ditemukan → lakukan penyuluhan 3 M dan penyuluhan mengenai penyakit malaria serta pencegahannya.


Cara Pencegahan Penyakit malaria
Sebagai referensi saya membagi 3 cara pencegahan efektif penyakit malaria ini :
  • Menghindari gigitan nyamuk, Tidur memakai kelambu, menggunakan obat nyamuk, memakai obat oles anti nyamuk, pasang kawat kasa pada ventilasi, menjauhkan kandang ternak dari rumah, kurangi berada di luar rumah pada malam hari.
  • Pengobatan pencegahan, 2 hari sebelum berangkat ke daerah malaria, minum obat doksisilin 1 x 1 kapsul/ hari sampai 2 minggu setelah keluar dari lokasi endemis malaria.
  • Membersihkan lingkungan, Menimbun genangan air, membersihkan lumut, gotong royong membersihkan lingkungan sekitar, mencegahnya dengan kentongan.
  • Menebar kan pemakan jentik, Menekan kepadatan nyamuk dengan menebarkan ikan pemakan jentik. Seperti ikan kepala timah, nila merah, gupi, mujair dll.

Upaya pencegahan difokuskan untuk meminimalkan jumlah kontak manusia dengan nyamuk melalui pemakaian kelambu (bed nets) dan penyemprotan rumah. Manajemen lingkungan dan pembasmian jentik-jentik nyamuk dapat dipakai dalam lingkungan ekologi tertentu, tergantung spesies vektor. Pemakaian kelambu yang direndam insektisida merupakan cara efektif untuk mencegah malaria, terutama untuk kelompok yang paling rawan, yaitu ibu hamil dan anak di bawah lima tahun. Secara nasional, hanya satu dari tiap tiga anak di bawah lima tahun yang tidurnya menggunakan kelambu (32,0 persen), proporsi yang lebih tinggi, yaitu 40,1 persen untuk bayi di bawah umur satu tahun.13 Kira-kira 0,2 persen anak tidur dalam kelambu yang direndam dengan insektisida. Salah satu hambatan pemakaian dari kelambu secara massal adalah masalah ketidakmampuan keluarga miskin untuk membeli kelambu.


CAMPAK

Campak (rubeola) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penularan infeksi terjadi karena menghirup percikan ludah penderita campak. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum timbulnya ruam kulit dan selama ruam kulit ada.

Campak merupakan penyakit akut yang mudah sekali menular dan sering terjadi komplikasi yang serius. Hampir semua anak di bawah 5 tahun di negara berkembang akan terserang penyakit ini, sedangkan di negara maju biasanya menyerang anak usia remaja atau dewasa muda yang tidak terlindung oleh imunisasi.

Campak hanya akan menulari sekali dalam seumur hidup. Bisa terjadi pada anak-anak yang masih kecil maupun yang sudah besar. Bila daya tahan tubuh kuat, bisa saja anak tidak terkena campak sama sekali.

Penyelidikan epidemiologi penyakit campak, yaitu :
  1. Mencari dan mendata jumlah penderita campak di suatu wilayah X
  2. Mengamati dan memeriksa tempat yang diperkirakan sebagai tempat penularan atau habitat dari virus campak atau morbili.
  3. Mencari faktor risiko dari penyakit campak.

Tindak lanjut hasil PE campak :
a. Bila ditemukan penderita positif campak atau penderita yang mengalami gejala-gejala campak (nyeri tenggorokan, hidung meler, batuk, nyeri otot, demam, mata merah, fotofobia, rum/kemerahan di kulit, dll) lebih dari 3 orang, maka melakukan :
  • Penyuluhan mengenai penyakit campak, pencegahan dan pengobatannya.
  • Mengisolasi penderita campak agar tidak menulari orang lain yang ada di sekitarnya.
b. Bila tidak ditemukan :
  • Memberikan penyuluhan mengenai semua hal tentang campak
  • Memberikan vaksin kepada orang-orang yang beresiko

Pencegahan
Vaksin campak merupakan bagian dari imunisasi rutin pada anak-anak. Vaksin biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (vaksin MMR/mumps, measles, rubella), disuntikkan pada otot paha atau lengan atas. Jika hanya mengandung campak, vaksin diberikan pada umur 9 bulan. Dalam bentuk MMR, dosis pertama diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun.


TUBERKULOSIS PARU
 Penyakit tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan Masyarakat. Di Indonesia maupun diberbagai belahan dunia, Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit menular yang kejadiannya paling tinggi dijumpai di India sebanyak 1.5 juta orang, urutan kedua dijumpai di Cina yang mencapai 2 juta orang dan Indonesia menduduki urutan ketiga dengan penderita 583.000 orang.
Penyakit tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang menyerang paru-paru, penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium Tuberkulosis. Mikro bakteria adalah bakteri aerob, berbentuk batang, yang tidak membentuk spora. Walaupun tidak mudah diwarnai, jika telah diwarnai bakteri ini tahan terhadap peluntur warna (dekolarisasi) asam atau alkohol, oleh karena itu dinamakan bakteri tahan asam atau basil tahan asam.
Mycobacterium Tuberkulosis dapat tahan hidup diudara kering maupun dalam keadaan dingin, atau dapat hidup bertahun-tahun dalam lemari es. lni dapat terjadi apabila kuman berada dalam sifat dormant (tidur). Pada sifat dormant ini kuman tuberkulosis suatu saat dimana keadaan kemungkinkan untuk dia berkembang, kuman ini dapat bangkit kembali.

Penyelidikan epidemiologi terhadap penyakit TB Paru :
1.       Mencari dan mendata jumlah penderita TB paru di wilayah yang terserang wabah TB paru.
2.       Mencari informasi mengenai sumber penyebab TB paru di wilayah tersebut.
3.       Mencari faktor resiko dari TB paru.
4.       Mengamati dan memeriksa tempat/habitat Mycobacterium tuberkulosis.

Tindak lanjut hasil PE penyakit TB paru :
1.       Bila ditemukan penderita TB paru, mycobacterium tuberculosis, atau pun penderita yang mengalami gejala-gejala TB paru (batuk berdahak dan bisa mengeluarkan darah selama lebih dari dua minggu, dada terasa sakit atau nyeri, sesak nafas), maka lakukan :
·         Penyuluhan segala hal tentang TB paru, baik pencegahan, bahaya maupun pengobatannya.
·         Isolasi, pemeriksaan kepada orang–orang yang terinfeksi, pengobatan khusus TBC.
·         Imunisasi orang–orang yang kontak langsung dengan penderita TB paru.
·         Penyelidikan orang–orang yang kontak langsung dengan penderita TB paru.
·         Pengobatan khusus terhadap penderita TB paru aktif.
·         Desinfeksi
2.       Bila tidak ditemukan → lakukan penyuluhan terhadap masyarakat mengenai penyakit Tuberkulosis paru secara berkala, sehingga penyakit ini dapat dicegah.

Tindakan Pencegahan.
1. Status sosial ekonomi rendah yang merupakan faktor menjadi sakit, seperti kepadatan hunian, dengan meningkatkan pendidikan kesehatan.
2. Tersedia sarana-sarana kedokteran, pemeriksaan pnderita, kontak atau suspect gambas, sering dilaporkan, pemeriksaan dan pengobatan dini bagi penderita, kontak, suspect, perawatan.
3. Pengobatan preventif, diartikan sebagai tindakan keperawatan terhadap penyakit inaktif dengan pemberian pengobatan INH sebagai pencegahan.
4. BCG, vaksinasi diberikan pertama-tama kepada bayi dengan perlindungan bagi ibunya dan keluarganya. Diulang 5 tahun kemudian pada 12 tahun ditingkat tersebut berupa tempat pencegahan.
5. Memberantas penyakit TBC pada pemerah air susu dan tukang potong sapi dan pasteurisasi air susu sapi .
6. Tindakan mencegah bahaya penyakit paru kronis karena menghirup udara yang tercemar debu para pekerja tambang, pekerja semen dan sebagainya.
7. Pemeriksaan bakteriologis dahak pada orang dengan gejala TBC paru.
8. Pemeriksaan screening dengan tuberculin test pada kelompok beresiko tinggi, seperti para emigrant, orang–orang kontak dengan penderita, petugas dirumah sakit, petugas/guru disekolah, petugas foto rontgen.
9. Pemeriksaan foto rontgen pada orang–orang yang positif dari hasil pemeriksaan tuberculin test.

Pengobatan Penderita Tuberkulosis
1) Penderita yang dalam dahaknya mengandung kuman dianjurkan untuk menjalani pengobatan di puskesmas.
2) Petugas dapat memberikan pengobatan jangka pendek di rumah bagi penderita secara darurat atau karena jarak tempat tinggal penderita dengan puskesmas cukup jauh untuk bisa berobat secara teratur.
3) Melaporkan adanya gejala sampingan yang terjadi, bila perlu penderita dibawa kepuskesmas. 



KEMATIAN IBU
Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll (Budi, Utomo. 1985).
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup.
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah kematian ibu. Dari hasil survei yang dilakukan AKI telah menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu, namun demikian upaya untuk mewujudkan target tujuan pembangunan millenium masih membutuhkan komitmen dan usaha keras yang terus menerus.

Penyelidikan epidemiologi terhadap kematian ibu :
1.       Mendata jumlah kematian ibu di suatu wilayah.
2.       Mencari informasi tentang penyebab kematian ibu di wilayah tersebut.
3.       Mengamati gaya hidup dan kesehatan lingkungan sekitar tempat tinggal.

Tindak lanjut hasil PE terhadap kematian ibu :
1.       Bila ditemukan jumlah kematian ibu yang lebih dari 5 orang atau ibu yang mengalami gangguan kehamilan yang beresiko terhadap kematian, maka dilakukan :
·         Penyuluhan mengenai kematian ibu, baik penyebab, dampak dan pencegahannya.
·         Peningkatan pemberdayaan perempuan
·         Penutupan tempat-tempat aborsi
·         Pengobatan eklamsia dan infeksi terhadap ibu hamil
·         Imunisasi Tetanus Toksoid kepada ibu hamil
2.       Bila tidak ditemukan → lakukan penyuluhan tentang angka kematian ibu di wilayah yang berpotensi tinggi terhadap angka kematian ibu secara berkala.

Pencegahan kematian ibu
Departemen Kesehatan menganjurkan agar ibu mendapat dua kali imunisasi tetanus toksoid (TT) selama kehamilan pertama. Imunisasi ulang diberikan satu kali pada setiap kehamilan berikutnya untuk memlihara perlindungan penuh. Kebijakan lain imunisasi TT juga diberikan kepada calon pengantin wanita, sehigga setiap kehamilan yang terjadi dalam tiga tahun sejak pernikahan akan dilindungi terhadap penyakit tetanus. (Depkes, 2000).

KEMATIAN BAYI / LAHIR MATI
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi  lahir sampai bayi belum berusia  tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan kematian neonatal, adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama kehamilan.
Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.

Penyelidikan epidemiologi terhadap kematian bayi :
1.       Mendata jumlah kematian bayi di suatu wilayah.
2.       Mencari informasi tentang penyebab kematian bayi di wilayah tersebut.

Tindak lanjut hasil PE kematian bayi :
1.       Bila ditemukan jumlah kematian bayi atau jumlah bayi yang beresiko terhadap kematian lebih dari 3 bayi, maka dilakukan :
·         Penyuluhan mengenai kematian bayi, mulai dari cara pencegahan hingga cara pengobatannya
·         Imunisasi
·         Perbaikan kesehatan lingkungan termasuk air bersih dan sanitasi
·         Pemenuhan gizi yang cukup
·         Pengendalian penyakit menular, terutama pada bayi
2.       Bila tidak ditemukan, maka dilakukan :
·         Penyuluhan tentang kematian bayi kepada masyarakat secara berkala
·         Peningkatan perilaku masyarakat dan keluarga yang dapat menjamin kehamilan, kelahiran, dan perawatan bayi baru lahir yang lebih sehat

Upaya pencegahan kematian bayi
Adalah penting untuk anda mendapat penjagaan kehamilan selama mengandung. Sekiranya anda berisiko tinggi seperti mengalami darah tinggi dan atau kencing manis, pemantauan akan menjadi lebih mendalam dan kerap dari biasa.Strategi dan usaha untuk mendukung upaya penurunan kematian bayi dan balita antara lain adalah meningkatkan kebersihan (hygiene) dan sanitasi di tingkat individu, keluarga, dan masyarakat melalui penyediaan air bersih, meningkatkan perilaku hidup sehat, serta kepedulian terhadap kelangsungan dan perkembangan dini anak; pemberantasan penyakit menular, meningkatkan cakupan imunisasi dan, meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi termasuk pelayanan kontrasepsi dan ibu, menanggulangi gizi buruk, kurang energi kronik dan anemi, serta promosi pemberian ASI ekslusif dan pemantauan pertumbuhan.

Sabtu, 16 Oktober 2010

tugas Epidemiologi dan Peranannya Dalam Pemecahan Masalah Kesehatan di Masyarakat


Epidemiologi dan peranannya di dalam pemecahan masalah 
kesehatan di masyarakat

                Dalam tulisan saya ini, saya akan membahas satu per satu mulai dari pengertian epidemiologi hingga peranannya dalam pemecahan masalah kesehatan di masyarakat.
                Dilihat dari berbagai defenisi epidemiologi yang telah dibuat oleh para ahli, maka dapat diketahui bahwa asal kata epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu yang mempelajari hal-hal yang terjadi pada masyarakat. (Epi = pada atau tentang, Demos = penduduk, Logos = ilmu). Dan saat ini epidemiologi dipahami sebagai ilmu yang mempelajari tentang frekwensi dan penyebaran masalah kesehatan pada kelompok manusia serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Kita juga dapat mengetahui defenisi lama tentang epidemiologi yang mengatakan bahwa epidemiologi sebagai ilmu yang mempelajari penyebaran atau perluasan suatu penularan penyakit di dalam suatu kelompok penduduk masyarakat.
Definisi epidemiologi lainnya ialah ilmu yang mempelajari tentang sifat, penyebab, pengendalian dan faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi dan distribusi penyakit, kecacatan dan kematian dalam populasi manusia. Epidemiologi juga meliputi pemberian ciri pada distribusi status kesehatan, penyakit atau kesehatan masyarakat lainnya berdasarkan usia, jenis kelamin, ras, geografi, agama, pendidikan, pekerjaan, perilaku, waktu, tempat, orang dan sebagainya.
Dari pendapat para ahli mengenai pengertian epidemiologi, dapat disimpulkan kegunaan-kegunaan kita mempelajari epidemiologi tersebut adalah :
a. Memperoleh pengertian mengenai cara timbulnya penyakit trauma.
b. Memperoleh pengertian mengenai riwayat alamiah penyakit.
c. Memperoleh pengertian mengenai penyebaran penyakit pada berbagai kelompok masyarakat.
Apa pokok-pokok yang dapat kita ambil dari pengertian epidemiologi ?
1.       Frekwensi masalah kesehatan.
2.       Penyebaran masalah kesehatan.
3.       Faktor-faktor yang mempengaruhi.

Secara sederhana, studi epidemiologi dapat dibagi menjadi dua kelompok sebagai berikut :
1. Epidemiologi deskriptif, yaitu Cross Sectional Study/studi potong lintang/studi prevalensi atau survei.
2. Epidemiologi analitik : terdiri dari :
a. Non eksperimental :
1) Studi kohort / follow up / incidence / longitudinal / prospektif studi. Kohort diartiakan sebagai sekelompok orang. Tujuan studi mencari akibat (penyakitnya).
2) Studi kasus kontrol/case control study/studi retrospektif. Tujuannya mencari faktor penyebab penyakit.
3) Studi ekologik. Studi ini memakai sumber ekologi sebagai bahan untuk penyelidikan secara empiris faktor resiko atau karakteristik yang berada dalam keadaan konstan di masyarakat. Misalnya, polusi udara akibat sisa pembakaran BBM yang terjadi di kota-kota besar.
b. Eksperimental. Dimana penelitian dapat melakukan manipulasi/mengontrol faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil penelitian dan dinyatakan sebagai tes yang paling baik untuk menentukan cause and effect relationship serta tes yang berhubungan dengan etiologi, kontrol, terhadap penyakit maupun untuk menjawab pertanyaan masalah ilmiah lainnya. Studi eksperimen dibagi menjadi 2 (dua) yaitu :
1. Clinical Trial. Contoh :
a) Pemberian obat hipertensi pada orang dengan tekanan darah tinggi untuk mencegah terjadinya stroke.
b) Pemberian Tetanus Toxoid pada ibu hamil untuk menurunkan frekuensi Tetanus Neonatorum.
2. Community Trial. Contoh : Studi Pemberian zat flourida pada air minum.

Peranan epidemiologi
Dari kemampuan epidemiologi untuk mengetahui distribusi dan faktor-faktor penyebab masalah kesehatan dan mengarahkan intervensi yang diperlukan maka epidemiologi diharapkan mempunyai peranan dalam bidang kesehatan masyarakat berupa :
a. Mengidentifikasi faktor-faktor yang berperan dalam terjadinya penyakit atau masalah kesehatan dalam masyarakat.
b. Menyediakan data yang diperlukan untuk perencanaan kesehatan dan mengambil keputusan.
c. Membantu melakukan evaluasi terhadap program kesehatan yang sedang atau telah dilakukan.
d. Mengembangkan metodologi untuk menganalisis keadaan suatu penyakit dalam upaya untuk mengatasi atau menanggulanginya.
e. Mengarahkan intervensi yang diperlukan untuk menanggulangi masalah yang perlu dipecahkan.

Kasus Masalah Kesehatan di Masyarakat
1.       Demam Berdarah Dengue (DBD)
Saya mengambil kasus ini dari data penelitian terhadap wilayah di kota Palu. Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Jumlah kasus yang dilaporkan cenderung meningkat dan daerah penyebarannya bertambah luas tiap tahunnya.
                Studi epidemiologi mengenai kasus ini bertujuan untuk mengetahui distribusi epidemiologi kejadian kasus DBD di kecamatan Palu Selatan berdasarkan karakteristik orang, tempat, dan waktu serta melakukan pemetaan distribusi spasial kejadian kasus DBD dengan pendekatan sistem informasi geografi (SIG) di kecamatan Palu Selatan. Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih 3 tahun di kota Palu, sehingga data yang didapat terbukti valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
                Hasil dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut : distribusi penderita DBD terbanyak laki-laki (52,48%), umur penderita terbanyak <15 tahun (46,60%), wilayah yang terbanyak penderita kelurahan Lolu Selatan (15,41%), waktu kejadian tertinggi terjadi pada bulan Mei s/d September. Terdapat 9 cluster kejadian DBD di kelurahan Tatura Utara dan kelurahan Tanamodindi. Diperoleh hubungan kepadatan penduduk dengan kejadian DBD (p = 0,0049881), suhu udara (25,30C - 28,10C) dan kelembaban udara (71,3% - 79,7%), diperoleh hubungan Angka Bebas Jentik (ABJ) dengan kejadian DBD di kecamatan Palu Selatan (p = 0,4623282).
                Dari hasil penelitian yang didapat, maka dapat disimpulkan bahwa laki-laki lebih banyak beraktifitas daripada perempuan, penderita DBD lebih banyak pada usia anak sekolah, kelurahan Lolu Selatan di kota Palu memiliki kepadatan penduduk dan mobilisasi penduduk yang tinggi, peningkatan kasus terjadi pada waktu musim penghujan yaitu bulan April s/d Oktober, adanya pengelompokkan kasus penderita DBD di kelurahan Tatura Utara dan kelurahan Tanamodindi, kepadatan penduduk sangat berhubungan positif dengan kejadian DBD, suhu dan kelembaban sangat mendukung dalam perkembangbiakan vektor penular penyakit DBD yang menyebabkan peningkatan penderita DBD dari tahun ke tahun, ABJ tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian penyakit DBD.

2.       Peranan epidemiologi dalam Keluarga Berencana
Peranan epidemiologi, khususnya dalam konteks program Kesehatan dan Keluarga Berencana adalah sebagai tool (alat) dan sebagai metode atau pendekatan. Epidemiologi sebagai alat diartikan bahwa dalam melihat suatu masalah KB-Kes selalu mempertanyakan siapa yang terkena masalah, di mana dan bagaimana penyebaran masalah, serta kapan penyebaran masalah tersebut terjadi.
Demikian pula pendekatan pemecahan masalah tersebut selalu dikaitkan dengan masalah, di mana atau dalam lingkungan bagaimana penyebaran masalah serta bilamana masalah tersebut terjadi.

3.       Epidemiologi bibir sumbing
Epidemiologi bibir sumbing ialah ilmu yang mempelajari tentang sifat, penyebab, pengendalian dan factor-faktor yang mempengaruhi frekuensi dan distribusi penyakit, kecacatan, dan kematian akibat bibir sumbing dalam populasi manusia.
Pada epidemiologi terdapat sejumlah pertanyaan penting yang harus selalu diingat, yaitu sebagai berikut :
- What : Apakah sebenarnya yang terjadi (atau kejadian apa)?
- Where : Di mana kasus bibir sumbing terjadi atau berlangsung? Lokasinya dimana?
- When : Kapan penyakit bibir sumbing tersebut terjadi? Apakah insidental, sepanjang tahun, atau pada waktu-waktu tertentu?
- Who : Siapakah yang terkena kecelakaan tersebut? Bagaimana dengan umur dan jenis kelaminnya? Apakah ia pejalan kaki, pengemudi atau penumpang kendaraan?
- Why : Mengapa kasus vivir sumbing dapat terjadi ?
- How : Bagaimana cara menanggulangi penyakit bibir sumbing tersebut? Bagaimana cara pencegahannya ? Dan lain sebagainya.

                Penyebab terjadinya labioschisis belum diketahui dengan pasti. Kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa labioschisis muncul sebagai akibat dari kombinasi faktor genetik dan factor-faktor lingkungan. Kemungkinan seorang bayi dilahirkan dengan labioschisis meningkat bila keturunan garis pertama (ibu, ayah, saudara kandung) mempunyai riwayat labioschisis. Ibu yang mengkonsumsi alcohol dan narkotika, kekurangan vitamin (terutama asam folat) selama trimester pertama kehamilan, atau menderita diabetes akan lebih cenderung melahirkan bayi/ anak dengan labioschisis.
                Cara menyusui bagi ibu yang memiliki anak dengan bibir sumbing:
a.  Memberi tahu ibu kepentingan ASI untuk bayinya,
b. Usaha untuk menutup celah atau sumbing bibir agar bayi dapat memegang puting dan areola dalam mulutnya waktu menyusui (jari ibu atau plak gigi yg khusus atau obturator), kadang-kadang payudara ibu menutup celah itu.
c. Memerah susu dan memberikan kepada anaknya menggunakan cangkir atau sendok teh.

Berdasarkan Pikiran Rakyat On Line tanggal 1 Juni 2009, disebutkan bahwa jumlah penderita bibir sumbing atau celah bibir di Indonesia bertambah 3.000-6.000 orang setiap tahun atau satu bayi setiap 1.000 kelahiran adalah penderita bibir sumbing.
Berdasarkan data dari Yayasan Pembina Penderita Celah Bibir dan Langit-Langit (YPPCBL) kepada Radar Bandung tahun 2008, bahwa sejak tahun 1979 sampai tahun 2008 operasi dan perawatan bibir sumbing mencapai 11.472 di seluruh Indonesia atau 395 orang per tahun.RADARBANDUNG Sedangkan pada tahun 2009 Ketua Pengurus YPPCBL kepada harian Kompas menyatakan bahwa saat ini diperkirakan jumlah penderita bertambah 6.000-7.000 kasus per tahun. Namun, karena berbagai macam kendala, jumlah penderita yang bisa dioperasi jauh dari ideal. Hanya 1.000-1.500 pasien per tahun yang mendapat kesempatan menjalani operasi.
Pencegahannya dapat dilakukan dengan cara-cara mudah, yaitu sebagai berikut :
1.       Menghidari merokok
Ibu yang merokok mungkin merupakan faktor risiko lingkungan terbaik yang telah dipelajari untuk terjadinya celah orofacial. Ibu yang menggunakan tembakau selama kehamilan secara konsisten terkait dengan peningkatan resiko terjadinya celah-celah orofacial.
2.       Menghindari alkohol
Peminum alkohol berat selama kehamilan diketahui dapat mempengaruhi tumbuh kembang embrio, dan langit-langit mulut sumbing telah dijelaskan memiliki hubungan dengan terjadinya defek sebanyak 10% kasus pada sindrom alkohol fetal (fetal alcohol syndrome).
3.       Memperbaiki nutrisi ibu
Nutrisi yang adekuat dari ibu hamil saat konsepsi dan trimester I kehamilan sangat penting bagi tumbuh kembang bibir, palatum dan struktur kraniofasial yang normal dari fetus. Nutrisi-nutrisi yang penting dan dibutuhkan seorang ibu saat hamil antara lain asam folat, vitamin B-6 dan vitamin A.
4.       Modifikasi pekerjaan
Dari data-data yang ada dan penelitian skala besar menyerankan bahwa ada hubungan antara celah orofasial dengan pekerjaan ibu hamil (pegawai kesehatan, industri reparasi, pegawai agrikulutur). Maka sebaiknya pada wanita hamil lebih baik mengurangi jenis pekerjaan yang terkait. Pekerjaan ayah dalam industri cetak, seperti pabrik cat, operator motor, pemadam kebakaran atau bertani telah diketahui meningkatkan resiko terjadinya celah orofasial.
5.       Suplemen nutrisi

Bibir sumbing merupakan penyakit cacat bawaan. Penyebabnya terjadinya bibir sumbing ialah multifaktorial, seperti genetik, nutrisi, lingkungan, bahkan sosial ekonomi. Jumlah penderita bibir sumbing di Indonesia bertambah 3.000-6.000 setiap tahun atau 1 bayi setiap 1.000 kelahiran. Namun, jumlah total penderita bibir sumbing di Indonesia belum diketahui secara pasti. Penderita bibir sumbing dapat diperbaiki dengan jalan operasi, namun memerlukan biaya yang besar, sedangkan kesempatan penderita yang menjalani operasi setiap tahunnya hanya sekitar 1.500 orang, angka ini masih jauh dari idealnya sehingga tindakan-tindakan pencegahan sebaiknya lebih diutamakan.